Fakta Menarik Tentang Fans Fanatik Klub PSG

Fakta Menarik Tentang Fans Fanatik Klub PSG

Fakta Menarik Tentang Fans Fanatik Klub PSGPerancis merupakan negara yang cukup makmur dalam mempersembahkan cabang olahraga khususnya sepak bola. Tak hanya Timnas Prancis yang menjadi impian utama dari para suporter dunia, akan tetapi salah satu klub bernama Paris Saint-Germain acap kali menjadi target masing – masing fans untuk bisa mendalami keseluruhan. Diketahui bahwa popularitas PSG dari masa ke masa memang tidak pernah pudar. Tidak hanya mendapatkan dukungan dari warga lokal, namun para imigran asing pun tetap setia untuk mendukung klub tersebut demi mendapatkan berbagai gelar bergengsi di semua ajang kompetisi resmi.

Faktanya pun garis besar para pendukung PSG (Les Parrisiens) didominasi oleh kalangan Afrika dan China. Beberapa tahun silam sempat terjadi peristiwa yang mencengangkan dengan adanya penembakan dan pengeboman yang menewaskan ratusan suporter di Kota Paris. Walau konstitusi Paris menitikberatkan terhadap keadilan sosial dan kesetaraan masyarakat, namun wilayah tersebut terus menjadi incaran para teroris atau mungkin perang saudara.

Hal itu merambat pada masalah umum yang terjadi di bangku stadion. Dimana banyak fans PSG yang tak jarang luput dari berbagai masalah. Sejumlah aksi rasialisme dan radikalisme pun terus mengalir hingga menciptakan kehidupan multietnis di Kota Paris. Kondisi itu bermula dari penyebaran suporter yang bergaya ultras ala Italia dan stelan ala Casual.

Kemunculan Kelompok KoB

Masalah serius yang terjadi di seluruh stadion dan sekitarnya bermula sejak kemunculan The Kop of Boulogne (KoB). Diketahui bahwa barisan tersebut merupakan perpecahan antara suporter PSG yang didominasi kelompok Firman. Beberapa dari mereka dianggap menitikberatkan pada anggota ultras. Tercatat bahwa tejadi terjadi kerusuhan paling masif pada Juni 2013 dalam pertandingan Perancis melawan Serbia. Pada saat itu kepolisian Brussels, Belgia berhasil menangkap beberapa provokator dan radikalis yang berniat untuk menghancurkan suasana pertandingan.

Dalam kajiannya, KoB merupakan suporter PSG yang memiliki dedikasi paling tinggi dari pada sekedar pendukung biasa. Hal itu bermula sejak alur transportasi antara Liverpool dan Paris sangat murah sekitar tahun 1970-an. Akses tersebut langsung dimanfaatkan untuk lapisan Parisans untuk menyalurkan informasi dengan cepat dan mudah. Lebih dari itu, beberapa dari mereka pun langsung menjarah hooligan di wilayah Inggris. Sampai pada suatu masa terjadi baku hantam dan kekerasan tak wajar yang menyebabkan pertumpahan darah tak terbendung. Di awal tahun 200-an, masalah tersebut mulai reda. Dan dari kejadian itu sejumlah kelompok KoB berkomitmen untuk tetap menjaga nama baik klub dari tindak kebrutalan. Hingga kini mereka tercatat sebagai paling dominan untuk kesuksesan PSG di Parc des Princes.

Tak Kenal Kata Ampun Untuk Rasialisme

Lebih dari itu, tindakan awal para komunitas KoB dikenal agresif hingga mampu mencetak rasialisme terhadap beberapa pendukung lain. Banyak perilaku buruk yang mereka layangkan hanya demi kepuasan pribadi dan kepentingan klub. Itu karena sebagian besar KoB memiliki ras yang dianggap berbeda dan bertentangan. Seperti yang terjadi pada beberapa tahun lalu, dimana beberapa suporter tersebut mengencangkan teriakan rasis terhadap salah satu pemainnya sendiri, Vikash Dhorasoo dengan slogan Pergilah Berjualan Kacang di Metro!. Hinaan tersebut selalu mereka bentangkan pada saat pemain asal India itu memegang bola.

Tindakan anggota KoB lainnya pun tak hanya stop pada Dhorasoo. Akan tetapi mereka kerap menimbulkan provokasi yang mengakibatkan perang saudara. Salah satunya ketika kalangan kulit putih bertemu dengan ras kulit hitam. Kedua kubu pun tak segan – segan untuk melantunkan hinaan yang paling tajam. Sampai – sampai hal itu menarik perhatian mantan Timnas Perancis, Patrick Vieira.

Menurutnya kasi tersebut sangat tidak layak dilakukan jika mengingat kesuksesan tim berawal dari para pendukung. Sehingga manajemen klub terpaksa membatasi kehadiran pada KoB di setiap pertandingan dan memasang ratusan CCTV untuk mendeteksi akan terjadinya kekerasan dan radikalisme di dalam hingga luar stadion.

Fakta Menarik Tentang Fans Fanatik Klub PSG

Puncak Kebrutalan KoB di Era Nasser Al-Khelaifi

Di awal tahun 2011, klub pemimpin Qatar Sports Investments (QSI), Nasser Al-Khelaifi berhasil mengambil alih kepemilikan Paris Saint-Germain. Beberapa musim ke depan Ia pun sukses mengantarkan PSG semakin berjaya hingga mendaratkan sejumlah trofi ke museum pribadi klub. Akan tetapi puncak kebrutalan KoB malah muncul di masa itu. Seakan – akan mereka tidak begitu senang kekayaan klub tersebut beralih tangan pada orang asing, apalagi berasal dari Timur Tengah.

Pada saat PSG juara Liga musim 2012-2013, para aktivitas KoB mulai melancarkan aksi brutalnya dengan menewaskan beberapa suporter lain atas kasus kematian anggotanya. Hal itu jelas berhubungan dengan firma dari suporter PSG lainnya. Diketahui bahwa aksi parade tersebut tidak berjalan lancar lantaran para Parisans harus mengambil alih radikalisme. Nasser Al-Khelaifi diamankan untuk beberapa saat seraya pihak yang berwajib turun tangan untuk merampungkan masalah tersebut.

Faktor Pemain Baru Terhadap Kedigdayaan KoB

Beberapa musim berikutnya, Nasser Al-Khelaifi sukses mendatangkan beberapa pemain baru bertajuk bintang untuk menghentikan rasialisme dari para komunitas KoB. Walau sebelumnya sempat muncul dukungan baru antara The Supras Auteuil dan The Tigris Mystic, namun pihak bertentangan itu mereda secara perlahan semenjak Les Parisiens mengunci beberapa gelar dari musim ke musim.

Terlebih pada saat PSG menggabungkan Neymar Junior dan Kylian Mbappe, seakan – akan warna – warni kekerasan KoB mulai meredup. Di tambah lagi sejak kemunculan Lionel Messi. Beberapa Parisans pun menyatu untuk memberikan berbagai dukungan paling masif untuk melihat tim kesayangannya kembali menjadi penantang terberat di pentas Eropa.